Hari ini, minggu, 24-08-2008, aku dapat pelajaran penting dan berharga lewat kotbah yang disampaikan hamba Tuhan di gerejaku. Kotbahnya tentang pemberontakan harun (or aaron-english version) dan miryam (or miriam-english version) terhadap musa. Di perikop itu, musa yang dari sudut pandang usia lebih muda dari harun dan miryam menegur harun karena memperistri perempuan yang dari kusy atau etiopia atau sudan yang notabene bukan dari kaum israel. Tapi, tunggu dulu. Bukankah musa juga memperistri seorang perempuan yang kaum keturunan ismael yang notabene dibuang dari keluarga abraham, bapak moyangnya kaum keturunan israel ? Mengapa Allah turun tangan terhadap harun dan miryam ? Mengapa Allah menghukum harun dan miryam karena komplain terhadap teguran musa ? Karena di mata Allah, musa adalah hambaNya yang paling rendah hati. Oleh karena itu, Allah berkenan berkata-kata dengan musa seperti seorang kawan dekat. Perlu diketahui, selama ini Allah berbicara kepada manusia yang dikehendakiNya lewat mimpi atau penglihatan. Jadi, kesimpulan apa yang dapat ditarik dari perikop ini ? Kesimpulan Pertama, jangan pernah menghakimi hambaNya yang pernah melihat kemuliaan Allah dan mendengar Allah berbicara langsung. Walaupun hambaNya itu nampaknya bersalah terhadap sesuatu atau seseorang. Lebih baik mengadu atau berdoa kepada Allah yang memilih dan mengangkat serta mengurapi. Karena kalau Allah bertindak membereskan hambaNya itu, jauh lebih parah dari yang pernah/bisa dibayangkan orang-orang luar hubungan pribadi antara Allah dan hambaNya. Kesimpulan Kedua, apapun yang terjadi, hamba-hambaNya yang pernah mendengar Allah berbicara langsung jangan pernah takut selama hubungan pribadi mereka dengan Allah beres.
DIarsipkan di bawah: Artikel | Ditandai: Berdoa, Beres, Berkata-kata, Berontak, Bersalah, Bicara, Dengar, Hamba, Hubungan Pribadi, Hukum, Istri, Kaum keturunan, Kawan-dekat, Lihat, Memilih, Menegur, Mengadu, Mengangkat, Mengurapi, Mimpi, Penglihatan, Rendah-hati, Tegur, Turun-tangan, Usia